Tuesday, 3 January 2017

Jalannya Masing-Masing

Setelah lulus, kami menempuh jalannya masing-masing.
Sebagian besar memang pada jadi guru, sesuai pendidikannya.
Sebagian lagi ada yang berkarir di perusahaan.
Sebagian lagi berwiraswasta.
Apa pun jalan yang dipilihnya, masa-masa bersama di kampus telah menjadikan kami sebuah keluarga.
Dan memang ada yang benar-benar berkeluarga, jadi suami-istri maksudnya.
Hehehe...jodoh emang nggak kemana-mana/

Monday, 20 June 2011

Kerja Sambilan

Walaupun susah didapat, tetap saja ada pekerjaan sambilan yang bisa dilakukan kami dan rekan-rekan sejurusan. Yang susah didapat adalah pekerjaan sambilan yang membutuhkan majikan (atau yang dilakukan dengan status kami sebagai karyawan orang lain), sedangkan yang mudah dilakukan adalah pekerjaan yang sifatnya wirausaha.

Berikut ini daftar beberapa pekerjaan yang lazim (juga yang tidak lazim) dilakukan sebagian di antara kami.

Yang perlu majikan:
a. Ngajar di kursusan (ini yang paling lazim)
b. Jadi resepsionis hotel (ada 1-2 orang)
c. Jadi penyiar radio (ada 1 orang, deh)


Yang nggak perlu majikan:
1. Penyedia jasa "Ngetik-in Kartu Mahasiswa" (biasanya di musim registrasi saban semester)
2. Penerjemah lepas (bagi yang mau repot-repot)
3. Pemandu wisata (tour guide) lepas (di Prambanan, Borobudur, Kraton, dan sekitarnya)
4. Ngajar privat (bahasa Inggris, tentunya)
5. Mbikin-bikin desain stiker (nggak nyambung dengan kuliahnya)
6. Nyanyi di kafe (nggak ada hubungannya dengan field of study-nya, tapi ada juga loh)
7. Ngejualin kartu lebaran (sama, nggak nyambung dengan mata kuliah apa pun di jurusan)

Yang saya ingat ya segitu itu. Memang, terbatas sekali lowongan pekerjaan yang tersedia bagi kami yang ingin mendapatkan penghasilan, serendah apa pun pekerjaan tersebut. Kadang, penasaran juga dengan berita-berita dan ocehan beberapa orang yang pernah tinggal di Eropa or Australia or USA bahwa banyak mahasiswa di sana yang bisa nyambi jadi pencuci piring di restoran atau pengantar pizza door-to-door. Ternyata, kondisi di negeri-negeri "sono" tersebut emang jauh berbeda dengan negeri Yogyakarta. Di Jogja, posisi-posisi yang "katanya" bisa diisi oleh mahasiswa secara sambilan ternyata udah diisi oleh orang-orang yang memang "hidup-matinya" ada di situ, alias mengandalkan pekerjaan tersebut sebagai pekerjaan utama dan satu-satunya.

Saya sendiri nekat jadi penerjemah, dengan tarif amat murah. Awal-awal, pekerjaan menerjemahkan ditulis tangan (dan ternyata ada juga customer yang mau). Setelah mampu mbeli mesin ketik bekas di Ledok Tukangan (gracias por Semar-Mesem fundacion), barulah penerjemahan dilakukan dengan mesin ketik. Tarif sedikit naik, tapi nggak bisa banyak-banyak, kerana customer (yang umumnya mahasiswa) maunya juga ngirit. Ya udah, wirausaha bermodal utama nekat pun jalan terus sampai kuliah kelar.

Ada yang membuat hati saya tergetar, salah satu mahasiswa lain jurusan (Bhs Jawa), dengan kepercayaan diri yang luar biasa mencari penghasilan dengan jualan baso dorongan di Samirono. Waktu dia lewat di depan kos-kosan saya, tenggorokan ini tercekat erat saking terharunya. Spellbound.

Friday, 22 October 2010

Setelah 20-an Tahun Tidak Ketemu


Setelah 20-an tahun berpisah, akhirnya sebagian dari kami ketemuan di acara reuni kecil-kecilan di Sleman. Baris depan ki-ka: Ponco, Tri, Ani, Erna, Ratna, Sri Lestari, Sulismiyani, Fitri, Wati, Endang. Baris belakang ki-ka: Teguh, Heni, Khozin, Suhaiban, Nusyirwan.
Faktor utama yang bisa membuat kami bertemu lagi adalah temuan ajaib bernama FACEBOOK. Thank you, Mark Zuckerberg.

Wednesday, 3 February 2010

Tentang Makanan

Sejak dulu, ada banyak sekali ragam makanan di Jogja. Keragaman makanan ini terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa orang dari berbagai suku bangsa di Indonesia semua ada di Jogja. Namun di antara ratusan jenis makanan, yang mampu dibeli mahasiswa prihatin adalah makanan yang itu-itu saja.

Nah, yang termasuk dalam makanan yang itu-itu saja antara lain adalah:
1. Sega gudeg standard
2. SGPC (Sega Pecel)
3. Bakmi
4. Gudangan
5. Sate ayam tipis
6. Soto bening
7. Sega rames (nasi, sayur lodeh, kering tempe, srundeng)

Di luar daripada itu, makanan-makanan yang tidak khas Jogja umumnya masuk kategori "kurang terjangkau". Untuk tidak semakin mengiris-iris hati karena mengenang masa lalu yang memprihatinkan, daftar makanan yang masuk kategori ini tidak akan saya tampilkan. Mengko malah mung gawe nlangsa....

Saturday, 3 January 2009

Tentang Biaya Hidup dan Biaya Kuliah Tahun 80-an

Walaupun agak mengharukan, menggali pendaman memori tentang biaya hidup di tahun-tahun 1980-an memberikan rasa bahagia tersendiri di hati. Bahagia terutama karena menyadari bahwa sebagian dari kita dapat melewati masa-masa yang sangat sulit dengan kondisi finansial yang amat memprihatinkan.

Seingatku, kurs US Dollar terhadap Rupiah pada awal-awal 1983 (jaman saya masih SLTA) adalah Rp 700 per 1 USD. Pada awal-awal tahun 1986, Rupiah berada di level 1.100-an per 1 USD. Terus, pada kuartal terakhir tahun 1986, pemerintah mendevaluasi Rupiah hingga nilai tukarnya menjadi Rp 1.600-an per 1 USD. Kurs di tingkat ini bertahan cukup lama.
Nah, saya mulai dari masa pendaftaran SIPENMARU 1986, nih. Saat itu, formulir SIPENMARU dibanderol dengan harga Rp 25.000. Tidak terlalu mahal, tapi juga tidak murah. Harga beras kelas biasa seingat saya sekitar Rp 600 per kilo (inget, maklum, suka keluyuran di pasar...).

Pada awal Agustus 1986, hasil SIPENMARU diumumkan. Saya diterima di IKIP Yogyakarta, Jurusan Bahasa Inggris. Pada saat itulah saya harus meninggalkan Purwokerto dan berangkat ke Yogya. Saat itulah saya naik kereta api secara "resmi" untuk pertama kali. Harga karcis kereta Purbaya dari Purwokerto ke Yogyakarta adalah Rp 1.600. Murah. Ini kelas ekonomi. Terus, di Yogya bis KOPATA mematok harga Rp 100 untuk sekali naik. Tarif becak tidak tercatat.

Di IKIP, mahasiswa baru yang masuk tahun 1986 diwajibkan membayar SPP sebesar Rp 55.000 per semester. Mahasiswa dari angkatan sebelumnya masih membayar Rp 33.000 per semester. Bahkan, mahasiswa dari angkatan 1983 cuman diwajibkan membayar Rp 8.000 per semester. Tak pelak, IKIP Yogyakarta waktu itu dianggap sebagai tempat kuliah yang sangat murah. Toh, rekor murah ini masih kalah dibanding IAIN Sunan Kalijaga yang (kalau nggak salah) pada tahun 1986 masih memasang angka Rp 25.000 per semester. UGM sudah memasang angka Rp 90.000 per semester (untuk fakultas-fakultas sosial) dan Rp 110.000 per semester (untuk fakultas-fakultas sains MIPA).

Nah sekarang giliran ngomongin biaya hidup. Sewa kamar kos bervariasi. Saya sendiri berhasil mendapatkan kamar yang saya sewa berdua dengan sepupu seharga Rp 70.000 per tahun! Di tahun berikutnya, saya menyewa kamar sendirian dengan tarif masih cukup murah juga: Rp 60.000 per tahun. Kondisinya memang "mengharukan". Ukurannya lumayan (3 x 4 m), lantainya semen, dindingnya anyaman bambu (gedhek), isinya dipan kosong tanpa tikar, sepasang meja-kursi kayu, listrik sekedarnya, air sumur timba, kamar mandi di kebun belakang, yang punya nenek-nenek yang "kadang galak"....he-he-he... Beberapa rekan lain beruntung bisa menempati kamar kos yang lebih layak, dengan harga sewa Rp 150.000 sampai Rp 300.000 per tahun. Tentu saja kondisinya jauh lebih "kondusif" buat "menuntut ilmu".

Perihal makan, di awal-awal kuliah saya sempat membeli makan di warung. Warungnya tiap hari sama, warungnya Lik Widi di Samirono. Harga seporsi nasi dan sayur cuma Rp 75. Sepotong tempe atau tahu goreng cuma Rp 25. Jadi, kalau makan nasi dengan lauk sayur (gudeg atau sawi atau jipang, dll) plus sepotong tempe, saya cuman perlu mengeluarkan Rp 100. Biasanya, expense Rp 100 ini saya terapkan untuk makan pagi. Untuk makan siang dan sore, biasanya yang saya keluarkan masing-masing Rp 200. Intinya, dalam sehari tidak boleh lebih dari Rp 500 untuk makan. Perihal pengeluaran ini memang harus diperhitungkan dengan amat cermat, mengingat jatah uang saku dari orangtua cuman Rp 15.000 per bulan. Yang kadang ajaib, jatah segitu kadang nggak habis, loh. Kadang masih ada sisa Rp 2.000-an yang bisa dipakai untuk pulang ke Purwokerto. Dengan catatan, sesampainya di stasiun Purwokerto hari sudah malam, angkot sudah ngandang, uang sudah tidak cukup untuk naik becak, dan sisa perjalanan pulang ke rumah terpaksa ditempuh dengan modal dengkul alias jalan kaki. Lumayan, jarak 8 km ditempuh dengan keringat bercucuran di udara malam Purwokerto yang lembab.

Untuk hidup "selayaknya mahasiswa", dana yang diperlukan pada tahun-tahun itu adalah di sekitar Rp 50.000 sampai Rp 60.000 per bulan. Jika dana bisa di atas itu, mahasiswa sudah bisa sedikit foya-foya (bisa sekali-sekali mampir ke "Crazy Horse").

Bulan-bulan berikutnya, saya memutuskan untuk memasak nasi sendiri dengan beras yang dibawa langsung dari Purwokerto. Beberapa kali ketemu penumpang di kereta bermulut usil yang mencemooh kala melihat pundak ini memanggul kantong beras (kantong bekas tepung terigu cap Segitiga Biru). Salah satu kalimat "negatif" yang masih terngiang-ngiang sampai sekarang: "Kok nggak sawahnya sekalian dibawa, Mas?" Saya cuma bisa membalasnya dalam hati: "Terkutuklah kamu!". Untuk lauk, saya tetap membeli mateng (karena nggak terbiasa masak sayuran). Kadang-kadang bikin sambel bajak sendiri juga, sih. Nah, keputusan memasak sendiri ini tentu saja semakin menekan biaya hidup. Jatah bulanan masih tetap sama, namun pengeluaran bisa berkurang. Percaya atau tidak, sisanya kadang masih bisa buat membeli t-shirt! Unbelievable.

Bagaimana dengan buku-buku? Dari mana uang untuk membelinya? Nah, ini juga ajaib. Believe it or not, selama lebih dari 6 tahun kuliah, buku text yang dibeli tidak sampai 10 biji! Buku tulis juga setahun cuma perlu satu (yang tebal) untuk semua mata kuliah. Beberapa buku diperoleh dengan cara memfotokopi. Nah, kalau pas tidak ada dana untuk fotokopi? Masih ada solusi: pergi ke perpustakaan, siapkan kertas-kertas HVS, trus salin dan rangkum isi buku dengan TULISAN TANGAN. Pokoknya tangan sampai pegal-linu dibuatnya. Untuk menghemat alat tulis, saya tidak memakai pulpen "sewajarnya". Pulpen yang biasa dipakai adalah pulpen yang bisa diisi tinta botolan, namanya "fountain pen". Merknya biasanya "ERO", trus merk tintanya ada yang "HERO" dan ada yang "QUICK". Selebihnya, perpustakaan memang jadi andalan.

Biaya fotokopi antara Rp 10 s.d Rp 15 per lembar.
Harga kaos murah-meriah di emperan Gardena (Jl. Solo) atau emperan Ramai (Malioboro) berkisar Rp 3.500 sampai Rp 5.000.
Harga emas sekitar Rp 25.000 per gram.
Harga mesin ketik bekas (merk Brother atau Olympic) sekitar Rp 90.000 sampai Rp 100.000.
Harga 1 unit komputer desktop (CPU, monitor, keyboard) merk Mugen di Computa sekitar Rp 1.000.000. Mahal banget!

Begitulah. Maka hidup pun terus berjalan....

Friday, 12 December 2008


Sejak kecil saya suka melukis. Sampai jaman kuliah pun masih suka melukis. Saking senangnya melukis inilah, bisa dikatakan tiada waktu tanpa mencoret-coret kertas. Termasuk di saat tengah mengikuti perkuliahan.

Biasanya, jika kuliah terasa membosankan, tangan saya langsung menjadi usil. Kertas yang ada di depan saya langsung menjadi korban coret-coretan. Tak peduli kertas itu bagian dari buku catatan atau buku text. Maka, bisa dibilang, tidak ada satu pun buku saya yang berpenampilan bersih.

Keusilan saya rupanya diketahui teman-teman. Beberapa di antara mereka "memanfaatkan" keisengan ini dengan meminta saya untuk melukiskan wajah mereka (dengan medium pena di atas kertas). Umumnya mereka menyerahkan foto wajah mereka ke saya untuk saya jadikan contoh untuk dilukis. Nah, di antara wajah teman-teman yang pernah saya lukis, fotonya masih saya simpan sampai hari ini. Berikut ini foto-fotonya.

Yang merasa sebagai pemilik foto....jangan marah ya wajah sampeyan aku pajang di sini. Oh ya, foto saya sendiri juga ada di antara foto wajah yang sempat saya lukis sendiri.

Saturday, 6 December 2008

English Week 1989




Salah satu acara paling heboh dan paling sukses sepanjang ingatan saya adalah English Week pada tahun 1989. Digelar di minggu terakhir bulan Maret 1989, acara ini melibatkan banyak sekali rekan yang mau repot-repot ditambahi pekerjaan di tengah kesibukan kuliah yang tidak selalu mudah.




Kalau tak salah, ketua panitianya Eko Humanika deh. Emang anak ini jago banget kalau diminta ngoordinir ini-itu. Saya sendiri juga ikut sibuk, tapi sibuk yang nggak jelas. Acara yang digelar ada bermacam-macam, seingat saya ada: English Speech Contest untuk anak-anak SMA se Kodya Yogyakarta, English Night, dan Cerdas Cermat Pengetahuan Umum dengan Bahasa Inggris untuk anak-anak sejurusan Bahasa Inggris.




Acara English Speech Contest (seingat saya dikoordinasi oleh Khudori '87) saya rasa amat mengesankan. Koordinasinya cukup rumit, menghubungi pihak sana-sini yang tidak semuanya mudah dihubungi, nyari sponsor, nyuruh teman-teman nyiapin tempat, nyuruh Imantoro (anak D3 '87) bikin dekorasi backgroud, nyiapin minuman dan snack, minta bantuan Bapak/Ibu dosen jadi juri, dan segala macem tetek-bengek (teteknya sih enak....bengeknya yang nggak enak, he-he-he). Toh, acara ini berlangsung dengan sangat sukses.




Saya masih ingat betul, gelar juara pertama lomba English Speech Contest digondol oleh Anies Baswedan dari SMA 2 Yogyakarta (kalau tak salah, loh). Untuk mengikuti lomba ini, Anies tidak mendaftar sendiri, tapi didaftarkan oleh ibunya. Ibunya si Anies ini saat itu adalah salah satu dosen di FPIPS atau FIP (nggak ingat benar saya). Sang ibu inilah yang kami temui sewaktu dia mendaftarkan anaknya untuk ikut lomba. Pendaftaran dilakukan di ruang kecil di pojok ruang dosen yang kami jadikan sekretariat. Sementara itu, gelar juara kedua adalah seorang gadis mungil manis bernama Lytta Hirticornisa dari SMA BOPKRI 1 (kalau tak salah juga loh, ya).




Kini, 19 tahun kemudian, kami tidak lagi mengetahui kabar berita tentang Lytta Hirticornisa. Where are you? However, kita kini mengenal Anies Baswedan sebagai seorang pakar politik yang juga Rektor Universitas Paramadina. Masih muda banget (mustinya sih sekarang belum ada 40 tahun) tapi udah jadi rektor.




Back to English Week, di akhir acara English Speech Contest, pengunjung dihibur dengan penampilan band bentukan rekan-rekan dengan format pemain campur-aduk. Para pemain musiknya rata-rata bagus, namun vokalisnya tidak bisa "dipukul rata". Memang ada vokalis Anastasia Ardiastuti dengan kualitas vokal jazzy sekelas January Christy, juga ada vokalis kenceng Sulthoni yang gaya dan kualitasnya mendekati Phill Collins. Tapi, di luar itu, vokalis kelas kamar mandi dengan kualitas menyedihkan juga ikut menyanyi (contohnya saya sendiri!).








Sebagai puncak acara, English Night digelar di Aula FPTK yang memang kondisinya paling memungkinkan untuk menggelar acara indoor malam-malam. Ada nyanyi-nyanyi lagi. Phill Collins van Sleman tampil lagi, cuman kali ini dia tidak membawakan hit "When I Am Feeling Blue" atau "Don't Take A Look At Me Now", tapi lebih banyak membawakan lagu-lagu The Beatles seperti "Let It Be", When I Was Seventeen", dan lain-lain. Juga ada gelaran sejenis "kentrung" yang dibawakan secara solo oleh Rahmat '87 (berkacamata, agak gondrong, rodo lemu juga). Trus, M Khozin kalau nggak salah membawakan ludruk bersama teman-teman Surabaya-nya. Acara lainnya pada malam yang heboh itu adalah pembagian hadiah, pidato-pidato singkat, dan makan snack. Saya sempat pula baca beberapa puisi dalam Bahasa Inggris. Sebagian karya sendiri, sebagian lagi puisi karya Pak Effendy, dosen di jurusan Bahasa Inggris IKIP Malang. Seingat saya, pembacaan puisi ini tidak begitu menarik minat penonton....Hu-hu-hu.....




Anyway, secara umum kami puas dengan acara itu. Beberapa foto acara tersebut saya pasang di sini.